Jangan Suka Dendam, sebab Anda akan Menjadi Korban yang Pertama

Sesungguhnya Tuhan yang mencukupi anda kemarin.
Akan mencukupi Anda pada esok hari.

Sebagian orang bersikap sangat pemaaf dan tidak terlalu peduli dengan kezaliman orang lain yang merampas hak-haknya. Bahkan terkadang dia pura-pura tidak mengetahuinya. Singkat kata, dia adalah orang yang sangat pemaaf dan baik hati. Dia tidak terlalu teliti menyelidiki sesuatu hingga ke akar-akarnya, tidak menyingkap apa yang ada dibalik pernyataan-pernyataan, dan tidak merepotkan dirinya dengan urusan-urusan seperti itu.

Namun sebaliknya, ada sebagian orang yang tidak mengenal kata maaf sama sekali dan sering menuntut sekecil apa pun haknya. Dia selalu berjuang mati-matian melawan orang-orang, dan dengan cara bermacam-macam untuk meraih haknya., Bahkan, bisa jadi yang bukan haknya pun ikut dituntut dan diakuinya. Dia sangat jarang mengikhlaskan apa saja yang telah menjadi haknya.

Dari sisi tabiat, orang yang pemaaf lebih dekat kepada keridhaan jiwa, ketenangan hati nurani, dan terbebas dari kesedihan, sebagaimana dia lebih dekat dengan hati-hati manusiadan lebih layak mendapatkan cinta mereka. Pintu-pintu kesuksesan yang terbuka di hadapannya lebih banyak dari pada orang yang mengaggap dirinya selalu terlibat konflik dengan orang lain.

Bahkan lebih dari itu, dia suka mencari-cari masalah dengan memelintir pernyataan dan maksud orang lain dengan keburukan dan kejahatan, yang menyebabkan kegelisahannya semakin menjadi-jadi. Orang-orang pun memberi, menjegal, dan menutup pintu kesuksesan kehadapannya. Dan sesunggynya Rasulullah saw bila dihadapkan pada dua alternative pilihan, maka beliau akan memelih yang paling ringan diantara keduanya selama pilihan itu bukan dosa. Namun bila hal itu dosa, maka beliau adalah orang yang paling menjauh darinya.

Rasulullah saw bersabda:”Allah swt, merahamati seorang hamba yang bila menjual, dia memberi maaf dan berlapang dada, demikian pula bila ia berbelanja dia pun bersikap pemaaf dan berlapang dada, dan demikian pula bila ia berpekara dia pun bersikap pemaaf dan berlapang dada.” (H.R Bukhari)

Sumber : As’adu-Imraatin fil’alam, oleh DR. ‘Aidh AbdullahAlQarni, M.A.

Categories: Artikel

120 Lulusan SMA Negeri 1 Ampek Angkek Diterima di Perguruan Tinggi

26 Agustus 2009 Ridha Fauza 1 comment

Sebanyak 120 lulusan SMA N 1 Ampek Angkek, Kabupaten Agam, memasuki Perguruan Tinggi (PT). Sekitar 60 persen diterima di PT favorit. Jumlah lulusan yang memasuki PT naik dari tahun sebelumnya yakni 90-an orang.

“Ini jadi kebanggaan tersendiri bagi kami. Insya Allah tahun berikutnya berbagai prestasi akan ditingkat lagi, “tutur Drs. H. Hamdi selaku Kepala Sekolah SMA N 1 Ampek Angkek, Kabupaten Agam.

SMA N 1 Ampek Angkek, Kabupaten Agam merupakan sekolah Bertaraf Internasional. Tahun ini lulusan siswa kelas SBI umumnya diterima di PT favorit di Indonesia. Seperti, UI, UNPAD, IPB, UNRI, USU, UNAND, UNP dan universitas lainnya. Jumlah siswa SBI TP. 2008/2009 sebanyak 30 orang, yang diterima di PTN favorit 28 orang. Enam orang lulus di UI, empat lulus PMDK dan dua lulus SPMTN.

Untuk menghasilkan lulusan berakreditasi  tinggi, SMA N 1 Ampek Angkek, Kabupaten Agam, menyediakan berbagai fasilitas pendukung proses belajar-mengajar yang memadai. Seperti labor IPA (Fisika, Kimia dan Biologi), komputer, multimedia, jaringan internet dan warnet. Insya Allah waktu dekat akan ditambah jaringan system HOTSPOT AREA , agar siswa dan warga sekolah termotivasi untuk bergulat dan bergelut di bidang IT.

Siswa SMA N 1 Ampek Angkek, Kabupaten Agam dibekali juga dengan materi pengembangan diri, seperti olahraga, kesenian, Pramuka, PMR . Bahkan dalam pengembangan diri tersebut ditambah lagi dengan silat dan randai serta yurnalistik.

Yurnalisitik dan pengembangan diri lainnya, bertujuan meningkatkan SDM kelak dimasyarakat serta mampu jadi penulis yang handal.

Categories: Artikel

Ekonomi Ramadan, Keberkahan Untuk Siapa ?

Saya tertegun membaca status facebook teman saya yang pegiat kemanusiaan itu. Ia gelisah karena Ramadan ini disambut oleh jor-joran diskon dan ajakan budaya konsumtif lainnya dari pusat-pusat belanja, melebihi ajakan spiritualitas Ramadan.

Kegalauan rekan saya ini bukan tanpa alasan. Media televisi dan  koran serta media out door di kota-kota besar memang menawarkan surga belanja di bulan Ramadan ini.

Entah berapa banyak biaya komunikasi yang dikeluarkan. Yang jelas dari tahun ke tahun budaya konsumsi semakin digenjot mengiringi bumbu spiritualitas Ramadan yang terkesan seadanya.

Karena budaya yang entah mulai kapan ini, angka konsumsi di bulan Ramadan memang melonjak tajam. Ini seperti sebuah orkestra tanpa dirigent yang memainkan lagu mars konsumtifisme tak berkesudahan.

Tentang bab yang satu ini, tak kurang sudah dua kali saya diundang talk show di stasiun TV untuk mendialogkan konsumtifisme Ramadan ini. Mulai tentang fenomena kenaikan harga bahan pokok menjelang Ramadan, pemborosan konsumsi makanan, konsep mudik, budaya kemewahan di hari raya sampai kesalahan manajemen THR oleh para karyawan.

Saya memperkirakan angka konsumsi rata-rata naik menjadi 200 persen sampai 500 persen (baca: 2 sampai 5 kali lipat). Ramadan seakan bulan tak rasional dalam hal konsumsi.

Menarik untuk mengetahui siapa yang menikmati angka konsumsi yang meningkat tajam  ini. Tentu saja para produsen dan pemasar kitalah yang menerima berkahnya. Sayangnya kedua kelompok ini selalu dikuasai oleh para pemodal besar.

Sektor industri baik produk konsumsi seperti makanan, pakaian dan jasa misalnya selalu saja menggambarkan ekonografi piramida terbalik, dimana pangsa pasar terbesar masih dipegang oleh para pemodal besar. Taruhlah dengan menyederhanakan model piramida terbalik ini kita bisa memprediksi sekitar 2/3 bagian dari nilai konsumsi publik dinikmati oleh hanya beberapa orang saja, sedangkan para pengrajin dan industri kecil lainnya yang jumlahnya banyak sekali ini hanya memperebutkan pangsa pasar 1/3 dari ekonomi Ramadan.

Saya juga memperkirakan angka koreksi pembagian kemakmuran yang mungkin terkucur dari penghasilan masyarakat yang menjadi karyawan sangat kecil. Hitungan saya ini didasarkan angka empiris  bahwa sektor ini dihitung  umumnya tak lebih dari 10% dari harga pokok penjualan produsen besar.

Parahnya struktur pemasaran juga tak mendorong distribusi yang ideal. Para pemodal besar dan jaringan pemasaran asing telah  masuk ke jantung ekonomi rakyat secara masif. Hal ini telah merubah peta jaringan pasar secara ekstrem dalam kurun dua dekade ini.

Terpinggirkannya pasar tradisional yang merupakan market base bagi para pengusaha kecil oleh jaringan pemasar raksasa bermodal besar secara signigfikan sengaja atau tak sengaja telah mengerdilkan pertumbuhan sektor perdagangan rakyat. Saya sedih menyaksikan warung-warung tradisional yang terpinggirkan oleh menterengnya minimarket milik jaringan produsen yang ada di pinggir jalan dan bahkan masuk ke gang kecil di kota dan desa.

Apalagi mengingat sang agresor pasar rakyat ini dimodali oleh kucuran bank milik negeri ini. Yang tersisa adalah ceruk-ceruk kecil dari market share konsumsi Ramadan yang mungkin masih kukuh dipertahankan oleh komunitas-komunitas atau lingkungan kecil yang mencoba bertahan dan membangun konsep ekonomi yang memungkinkan berbagi dengan lebih adil, namun hal ini sangat terbatas.

Maka kita bisa memperkirakan siapa yang mengonggok keuntungan pada kurun Ramadan ini. Lalu Ramadan yang penuh berkah akan berarti sempit karena kita semua telah ikut mendesain ‘keberkahan’ ini tak terbagi proporsional.

Dalam kolom yang terbatas ini saya memang sekedar membingkai potret suram ini dengan garis yang sedikit lebih jelas. Bukan untuk membuat kita pesimis. Namun untuk menunjukkan bahwa ini adalah medan ‘jihad’ kita untuk membangkitkan kemakmuran lebih dirasakan sebanyak mungkin masyarakat.

Tulisan ini memang menyisakan sejumlah PR buat kita. Untuk membenahinya kita mulai dari mengumpulkan data dan protret masalahnya yang lebih lengkap dan tentu saja semangat menyala untuk ikut bersama menyelesaikannya.

Suara Muhammadiyah / 22-Aug-2009

*) Moh. Arifin Purwakananta

Categories: Artikel